suatu saat, suatu cerita

Suatu saat, dalam satu perjalanan, aku menemukan banyak kejanggalan. Dari bis yang sangat penuh dan melalui jalan yang sangat aneh, kemudian seorang nenek yang tampak sangat baik tapi ternyata malah menjebakku dengan meninggalkan aku sendirian di tengah musim dingin yang mencekam di Italia, yang entah kenapa suasananya pada saat itu juga seakan bukan di Italia, tetapi di suatu daerah yang familiar buatku. Sialnya lagi, tas yang berisi segala perlengkapan perjalanan aku tertinggal di bis yang bahkan aku sudah tidak tahu lagi berada di mana.

Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba seseorang memanggilku. ketika ku menoleh……. ternyata orang yang sudah sangat lama tidak kujumpai berada di depanku, dengan wajah yang sama seperti waktu kita masih SMA, dan tersenyum. Ah, betapa rindunya aku padanya. tidak ada yang berubah. Aku nyaris saja memeluknya, ya nyaris, ketika dia terlihat canggung saat aku nyaris menerjang dia pada pelukan maut, yang sesungguhnya memang aku inginkan karena rasa rindu yang ….ah…. sudah nyaris tak terbendung lagi. Aku pun bertingkah comical, tertawa kaku, dan pada akhirnya kami hanya menepuk bahu satu sama lain.

Mengetahui kondisiku yang sedang tidak aman (lebih tepatnya karena gugup dan memang agak ketakutan), dia menawarkan diri untuk menemaniku dan diizinkan untuk mengikuti rombongan dia dan teman-temannya, yang bahkan aku tidak pernah menyangka kalau dia ternyata punya banyak teman selama berkelana di daerah yang sangat asing bagiku. Tentu saja, aku sangat senang karena di daerah yang sangat asing ini aku bisa bertemu salah satu teman lama yang memang bisa aku andalkan. Tetapi permasalahan lagi-lagi muncul ketika bis yang seharusnya membawa kami tidak kunjung datang. Aku pun berpikir seandainya dekat sana ada kereta dan aku membawa peta serta mencari tahu lebih awal mengenai tempat yang akan aku kunjungi, tentu saja kejadian semacam ini tidak akan terjadi. sialnya lagi, aku hanya memakai spring parka yang sebenarnya sudah menghilang entah ke mana.

Beruntunglah, ketika kami menunggu bis, rombongan temanku itu tiba-tiba memanggil nama temanku. tentu saja temanku langsung menghampiri mereka dan memutuskan untuk menuju suatu tempat, yang lagi-lagi entah mengapa cukup familiar olehku. Meskipun aku diizinkan untuk bergabung, aku merasa bahwa aku dikucilkan, tidak, tepatnya aku merasa ditatap dengan intens oleh teman-teman perjalanannya temanku ini. Lucu ya. Diajak ngobrol aja ngga, apalagi nanya kabar. Seakan aku adalah musuh yang harus dibasmi, perebut teman mereka. Ah sudahlah.

Ketika sampai di tempat tujuan pun, aku memilih untuk merehatkan ragaku yang terlalu lelah karena seluruh kejadian pada hari ini. Namun sebelum aku benar-benar terbuai dalam dunia imajiku, aku melihat pesan yang konyol dari ayahku dan bertanya mengenai kondisiku. Tentu saja, aku tidak mau menceritakan hal itu kepada mereka, Kku tidak mau membuat mereka khawatir. Tidak lama kemudian aku pun tertidur dengan memeluk sisa bawaanku dan parka spring milikku, untuk menghangatkan diri.
———
aku terbangun setelah mendapatkan petunjuk aneh di mimpiku. aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur, yang pasti begitu aku lihat sekitarku, teman-teman perjalanan temanku ini sudah tidak ada. bahkan temanku pun tidak ada. aku pun pasrah, dan hanya bisa meratapi nasib karena ditinggal. sudahlah mungkin aku memang ditakdirkan untuk sendirian, sendiri melanglangbuana dunia yang penuh misteri.

kau pikir, ceritaku berakhir di sini?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Begitu aku memeriksa ruang sebelah, yang bahkan aku pun bingung, sejak kapan ada ruangan semacam ini, aku melihat temanku yang sedang asyik berbicara dengan sosok yang benar-benar tidak asing bagiku dan temanku itu, dengan sly face-nya mengatakan “Jei, ketauan yaaa…”

Masih setengah sadar dengan apa yang terjadi, tiba-tiba ada suara yang sangat aku kenal bilang begini, “ka, ayah baru tau loh. sejak kapan?” dengan tatapan penuh intimidasi dan wajah ingin menginterogasi. Setelah sadar dengan apa yang terjadi, mataku terbelalak, aku pun cuma berteriak, “HAH KOK AYAH SAMA IBU ADA DI SINI!?”

Malu, jelaslah. Temanku itu masih asyik berbicara dengan orang tuaku, entah apa itu karena tidak tertarik untuk tahu. Yah sebenarnya ingin tahu, tetapi terlanjur malu, aku  langsung kembali ke tempat aku tertidur dan memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kemudian, aku sadar bahwa suhu di sekitarku rasanya meningkat. Aku masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi hingga semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Aku pun benar-benar terbangun. kulihat sekitarku. ah, ternyata semua itu hanya mimpi. Tetapi, semua itu terasa nyata. aku masih belum ingin bangkit dari kasur dan aku punya perasaan apabila saat itu aku memilih untuk melanjutkan perjalanan itu, mimpi yang terpotong itu akan terus berlanjut.

Mungkin di lubuk hati terdalam, aku masih merasakan hal yang sudah berusaha aku lupakan. tapi ah ya sudahlah. Kalau memang itu adalah pertanda. ya sudahlah. aku sih malah bersyukur HAHAHAH

oke, sekian cerita gak jelasnya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s