Cara untuk Meningkatkan Kemampuan Otak Anak Menurut Orang Tua Mahasiswa Tokyo University (dan Tips-Tips Belajar ala Mahasiswa Tokyo University )

Halo! Setelah sekian lama akhirnya ada mood buat nulis blog.

 

Untuk kali ini, saya akan menulis rangkuman dari salah satu acara TV Jepang yang membahas mengenai bagaimana cara mendidik anak oleh orangtua mahasiswa Tokyo University (Todai) dan cara belajar ala mahasiswa Todai.

 

Sebagai info awal:

  • Saya tidak tinggal di Jepang dan menonton ini melalui streaming di Youtube
  • Saya juga bukan anak Tokyo University ya pls
  • Isi dari yang akan saya bahas berasal dari acara yang disiarkan oleh stasiun TV Tokyo Broadcasting System atau TBS dengan judul 中居正広の金曜日のスマイルたちへ(Nakai Masahiro no Kinyoubi no sumairu tachi e;  Nakai Masahiro to make people Smile in Friday; selanjutnya disebut Kinsuma), yang memang bertujuan untuk membahas tentang berbagai hal yang biasa diinginkan oleh penonton. Jadi bisa aja topik yang dibahas di acara tersebut berguna atau benar-benar random. Untuk konten kali ini, saya rangkum dari Kinsuma yang tayang pada tanggal 13 Maret 2020
  • -Dari stasiun TV yang sama, setiap hari Rabu, ada acara kuis bernama 東大王 (Toudaiou; King of The Tokyo University /ini terjemahan resmi dari acaranya ya btw). Bisa dibilang awalnya kuis ini ini merupakan ajang bagi mahasiswa Todai yang memang cerdas dan menyukai kuis dan bertujuan untuk mencari siapa mahasiswa Todai yang paling top di antara top. Kalau dibandingkan dengan di Indonesia, mungkin bisa dibilang siapa yang paling top di antara mahasiswa ITB. Acara ini sangat terkenal di Jepang dan tayang di jam prime time  (19.00 JST) dan yang menontonnya tidak hanya anak muda saja tapi juga orang dewasa. BTW acara ini terkenal karena memang bisa menambah ilmu dan tentu saja memacu semangat pelajar SMP-SMA Jepang yang ingin masuk ke Todai agar bisa mempelajari berbagai hal, tidak hanya materi sekolah gitu. Bagi orang dewasa, bisa menambah ilmu karena yang dijadikan materi kuis bukan tema yang ada di perkuliahan, justru cenderung hal yang memang sedang menjadi topik/ sejarah/tempat/karya terkenal dunia. Kalau di Indonesia itu semacam kuis Siapa Berani dengan tingkatan soal yang dinaikkan 3 kali lipat wkkwkw. Kalau untuk orang yang belajar bahasa Jepang, ini bisa jadi pemicu buat belajar bahasa Jepang dengan sungguh-sungguh karena kanjinya MEMANG SUSAH BANGET. N1 JUGA LEWAT.
Contoh Kanji Othello
Salah satu contoh kanji yang dipakai untuk Kuis Todaiou. Untuk gambar ini, kanji yang dijadikan soal adalah kanji makanan yang ada Jepang (yang biasanya dalam kehidupan sehari-hari tidak ditulis dengan kanji)

Yang dijadikan referensi adalah orangtua dari anggota tetap Toudaiou ya.

Member Toudaiou
Anggota Toudaiou dari Kiri ke Kanan: Hayashi Teruyuki, Mizukami Sou, Suzuki Hikaru, dan Tsurusaki Hisanori.
vlcsnap-2020-03-18-21h30m35s949
Pangeran Fakultas Kedoktera Todai, Mizukami (Lulus FK Todai dan Todaiou pada Maret 2020 dan mulai Internship pada bulan April 2020); orang tuanya dokter
vlcsnap-2020-03-18-21h32m29s690
Si Jenius dengan IQ 165 Tsurusaki; Ayahnya dosen dan ibunya penyanyi opera (Panggilan: Tsuru-chan)
vlcsnap-2020-03-18-21h32m12s743
Nona muda dengan kemampuannya yang diakui oleh Stamford University, Suzuki Hikaru
vlcsnap-2020-03-18-21h32m50s329
Intelek dari Jurusan Sastra di Todai, Hayashi Teruyuki (Julukan: Jusco-Hayashi)

Selanjutnya, seperti judulnya, saya akan membahas beberapa poin yang menjadi topik di acara Kinsuma, yaitu bagaimana cara meningkatkan kemampuan otak anak dan gimana caranya agar anak mau belajar. Ini akan menjadi postingan yang cukup panjang daripada biasanya, jadi harap bersabar ya 😅 Semoga ini bisa jadi masukan agar anaknya atau kamu yang masih sekolah bisa masuk kampus favorit sejuta umat di Indonesia, yaitu biar bisa masuk ITB atau kampus favorit yang terkenal akan tingkat kesulitannya yang tinggi 😌. atau setidaknya bisa menjadi referensi belajar dan mengasuh anak yang efektif lah ya.

Harap diingat: ini hanya sebagai saran, terutama untuk cara belajar karena pada akhirnya kalau cara belajar kita sendiri yang menentukan bagaimana metode yang paling tepat.

Kalau malas baca saya buatkan rangkuman singkat aja aja TL;DR:

  1. Orang tua harus mau belajar lagi dan benar-benar mendukung keinginan anaknya (bukan memanjakan) dan pengalaman yang diperoleh anak adalah hal yang paling penting. dan kebal nyinyiran orang lain tentunya. saat anak belajar orang tua juga harus ikut menemani, ga cuma nyuruh doang.
  2. Pancing anak biar tertarik baca buku dan jadikan ini sebagai kebiasaan.
  3. Model komunikasi juga bukan memerintah, tetapi berdiskusi atau ajak anak buat berpikir agar bisa menyelesaikan masalah atau bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
  4. pelajari materi yang akan disampaikan di sekolah dan catat apa yang guru sampaikan di catatan kalian.
  5. Ubah mindset kita belajar lebih awal bukan biar kita dibilang pintar, tapi biar waktu buat main jadi lebih banyak.

Buat yang ingin mengetahui bagaimana sih cara orang Todai belajar; berikut adalah rangkuman dari beberapa pertanyaan dari penonton Kinsuma dan jawaban dari orang tua mahasiswa Todai, khususnya para anggota Todaiou. Beberapa bagian yang saya komentari ditulis dalam kurung dengan format italic.

  1. Bagaimana cara orang tua mendidik anak pada saat periode emas?

Jika kalian berpikir sejak kecil mereka sudah dipaksa belajar, maka jawabannya salah. Ada satu hal yang diterapkan oleh keempat orang tua dari anggota Toudaiou, yaitu:

  • Sukina koto o yarinasai yang berarti: membiarkan anak lakukan sesuatu yang memang mereka sukai. Para anggota Toudaiou memang tidak pernah disuruh belajar sama sekali oleh orang tuanya, tetapi sesuatu yang membuat mereka belajar ga pernah disuruh belajar. Tetapi, suasana rumahnya memang mendukung anak senang dengan apa yang dilakukannya. Selain itu, hampir semua orang tua anggota Toudaiou tidak pernah melarang anaknya melakukan sesuatu.
    • Karena hal ini juga, Hikaru pernah dianggap lambat oleh orang-orang di sekitarnya, padahal orang tuanya tidak beranggapan seperti itu.
  • Pengalaman yang diterima anak merupakan hal yang paling penting. Menurut Ishiura-Sensei, salah satu dosen di Todai, Apabila anak melakukan apa yang dipikirkan dan mengalaminya secara langsung, rasa ‘penerimaan’ keingintahuannya akan berbeda apabila hanya mendengarkan.

Sebagai contoh, Hikaru pernah bilang ke ayahnya ingin tahu bagaimana bentuk insang ikan, lalu ayahnya langsung membeli ikan dan mengajak Hikaru untuk mencari bersama-sama insang ikan tuh bentuknya seperti apa.

Contoh lainnya, Mizukami pernah bilang ke ayahnya ingin lihat Kumbang yang besar (Kabutomushi), lalu ayahnya sengaja sehari sebelumnya mempersiapkan  umpan yang bisa menarik perhatian kumbang lalu mengajak Mizukami pada malam berikutnya untuk melihat kumbang tersebut bersama-sama.

Ada jawaban tambahan yang menjadi kunci agak metode ini sukses, yaitu Orang tua harus siap dengan sepenuh hati mendukung agar anaknya bisa memahami pengalaman yang diperoleh dan juga mempersiapkan sesuatu yang menarik minat anak.

(btw Hikaru memang anak orang kaya dan Mizukami tinggalnya tidak di kota)

 

  1. Bagaimana teknik agar anak bisa memiliki ketertarikan terhadap sesuatu?

Pertanyaan ini juga ditekankan pada periode emas anak dan ada dua jawaban dari acara ini.

  • Dari orang tua Mizukami, yaitu mempersiapkan apa yang sekiranya bisa membangun ketertarikan anak terhadap mengembangkan sesuatu yang ada dan tidak menekankan anaknya harus bisa belajar sama sekali. Contoh dari keluarga Mizukami adalah K’Nex. (kalau saya tidak salah tangkap) Mizukami bilang kalau dia tidak pernah meminta mainan itu tau-tau ada di rumah, ya sudah dia mainkan lah ya (Kalau susah pakai K’nex, sepertinya bisa juga pake lego atau puzzle. Sekreatif orang tua lah intinya.).
kn18026_01
contoh K’nex (https://s3-ap-southeast-2.amazonaws.com/ricemillapp/media/4/K/N/KN18026/KN18026_01.jpg)

 

  • Orang tua juga harus (menunjukkan minat) belajar. Ini jawaban dari Tsurusaki. Tsuru-chan bilang kalau orang tuanya tidak menunjukkan senang untuk mempelajari sesuatu, dia tidak akan bisa seperti saat ini(Ber-IQ 165 dan sepintar itu). Ayah Tsuru-chan selalu menunjukkan ke anaknya kalau dia sedang meneliti sesuatu yang baru di rumah, sementara ibunya, karena penyanyi klasik, maka mau tidak mau belajar bahasa Inggris atau Jerman. (Simpulan yang saya dapatkan di bagian ini, kalau kamu sebagai ortu mau menyuruh anaknya belajar, ya kamunya juga ikut belajar, bukan cuma sekadar nyuruh ke anak belajar tapi sendirinya main hape berinstagram ria heuheu. problematika saat ini memang)

 

3. Apa kebiasaan yang baik bagi anak yang bisa bermanfaat meskipun sudah dewasa?

  • Bermain Shiritori-sambung kata. Permainan sambung kata dapat meningkatkan kemampuan mengingat kosa kata pada seseorang. Kalau di bahasa Jepang (diterapkan keluarga Tsuruchan, terutama ayahnya kepada Tsuru-chan), pada saat masih SD, ayahnya selalu memberikan kosakata yang diakhiri dengan suku kata RU, yang bahkan bagi orang dewasa pun sulit karena kosakata yang diawali dengan suku kata RU di Jepang itu sedikit sehingga bisa memancing anak untuk mencari kosakata yang berawalan dengan RU di kamus. (Kalau di Indonesia mungkin aturannya bisa diubah dengan dua huruf terakhir semacam bulu–>LUka atau dimodifikasi.)
  • Sehari membaca dua buku. Welp, anak Todai (konon katanya) senang baca buku. jadi ya memang sebaiknya setidaknya ada 1 buku yang dibaca setiap harinya. Kasus unik Mizukami: Pas SD – SMP meminjam buku dari perpustakaan setiap hari sehari sebanyak 2 jilid, dibaca di hari yang sama kemudian besoknya dikembalikan ke perpustakaan dan meminjam buku lainnya. Berdasarkan perhitungan dari tim Kinsuma, jumlah buku yang sudah dibaca oleh Mizukami selama 9 tahun sejak SD hingga SMP, apabila dilakukan setiap hari, maka tinggi bukunya setara dengan gambar yang dikasih panah… errr… mungkin…. 6 atau 7/8 menara Tokyo  😗 (Barangkali ini yang harus saya kasih tahu, cara kerja otak Mizukami berbeda dengan orang biasanya, yaitu dia punya kemampuan untuk mengingat apa yang dia lihat dan baca sekali saja. jadi info yang dia tidak mau peroleh juga kalau dibaca mau ga mau pasti diingat. makanya bisa kayak gitu juga ahahah orz)
vlcsnap-2020-03-18-22h10m13s800
Jumlah buku yang dibaca Mizukami kalau dibandingkan dengan menara Tokyo
    • Bagaimana caranya agar anak bisa mau buat baca buku? Soalnya pernah denger kalo anak yang doyan baca buku pasti anak pinter. Jawaban yang dikasih oleh orang tua Mizukami adalah: dengan menyimpan buku-buku yang sekiranya dapat menarik minat anak-anak untuk mengecek isi buku tersebut dan membacanya. (Tapi tidak harus macam ayahnya Mizukami juga sih, yang membeli 100 buku bekas setiap waktu tertentu. FYI juga nih, buku bekas di Jepang itu harganya murah dan kualitas bukunya rata-rata masih BAGUS BANGET; PENGALAMAN PRIBADI YA).

 

4. Bagaimana cara agar bisa berbicara dengan baik di depan orang lain?

  • mengangkat tangan ketika guru bertanya dan menyampaikan jawabannya. Hikaru juga mengatakan hal ini merupakan sesuatu yang TIDAK AKAN PERNAH DILAKUKAN OLEH ANAK BIASA atau orang pada umumnya karena biasanya pasti bakal malu. Ternyata, dengan berusaha menyampaikan apa yang yang ingin dikatakan ke orang lain, kosa kata dan kemampuan berbahasa juga bakal akan meningkat. Yang ditekankan di sini bukanlah benar atau salahnya jawaban yang diungkapkan, namun bagaimana cara agar menyampaikan pendapat dia. kalau benar ya syukur, kalau salah kan bisa tau mana yang salah dan dapet feedback/masukan dari orang lain.

(Sayangnya, menurut saya hal ini masih agak sulit dilakukan, bukan berarti gak bisa ya, apalagi tipikal orang Indonesia yang pada umumnya JULID sehingga menurunkan kepercayaan diri orang yang awalnya sudah pede. Terkadang respon dari yang ngasih pertanyaannya juga bukan memperbaiki jawaban yang salah tapi malah menjatuhkan mental anaknya. selain itu, kalau lingkungannya tidak mendukung, bisa-bisa anak model gini bakal dibully sama teman sekelasnya kalau di sekolah *ini juga sepertinya menjadi alasan mengapa orang Indonesia pada umumnya sulit untuk bisa menerima masukan dengan baik… ya karena pengalaman sendiri aja sih…. ketika berusaha mengungkapkan pendapat, belum juga selesai ngomong udah diremehkan/diejek duluan. jadi…..🤔 ini juga bakal jadi catatan buat saya sih….)

 

5. Bagaimanakah cara belajar yang tepat untuk meningkatkan nilai dan peringkat di sekolah?

(FYI, di JP juga sama kayak di Indonesia, peringkat anak di sekolah menjadi patokan)

tapi sebelum menjawab pertanyaan ini, kira-kira dulu pas masih sekolah/kuliah kalau belajar lebih suka mengulang materi kelas atau mempersiapkan diri dengan belajar duluan sebelum kelas dimulai? dan kira-kira yang mana yang efektif?

Kalau jawabannya adalah latihan setelah menerima pelajaran dari guru maka jawabannya adalah salah besar, karena para anggota Toudaiou lebih memilih untuk:

  • mempersiapkan diri dengan mempelajari materi yang akan diajarkan di kelas sehari sebelumnya. Terdengar ambisius? Bisa jadi. Tapi mereka ada alasan tersendiri mengapa memilih mempelajari materi yang akan diajarkan di sekolah sebelum diajarkan guru. Mereka juga bilang kalau melakukan hal tersebut bukan karena mereka suka belajar, tapi:
    • Agar waktu bermain mereka bertambah.
    • Meningkatkan rasa percaya diri mereka karena bisa mengetahui hal tersebut lebih awal dan ada perasaan kalau saya memang ahli di bidang tersebut.
    • Alasan lainnya adalah: kalau mengulang materi setelah dijelaskan ada perasaan seolah mendapatkan tekanan ekspektasi dari orang lain soalnya udah dikasih tahu apa yang harus dipahami dan rasanya sama orang biasa aja… alias tidak mencolok.
ilustrasi alasan mengapa belajar lebih awal lebih baik daripada hanya sekadar mengulang
      • Penjelasan gambar di atas: Orang yang belajar sebelum diterangkan di kelas (merah) biasanya akan lebih memahami pelajaran di sekolah, sehingga waktu yang digunakan untuk mengerjakan tugas/mengulang pelajaran hanya sedikit, dan waktu bermainnya juga bertambah. Sementara orang yang tidak belajar sebelum diterangkan di kelas (biru) biasanya pemahaman tentang pelajarannya…well… biasa aja (tergantung orang, ada yang beneran paham ada yang tidak). Karena pemahamannya yang biasa aja itu, waktu yang digunakan untuk mengerjakan tugas/mengulang pelajaran jadi lebih banyak sehingga waktu untuk bermainnya jadi lebih sedikit.
  • Sebenarnya ada salah satu jawaban dari salah satu tamu acara selain anggota Todaiou, Nonomura, yang menurut saya menarik, yaitu setelah makan malam beliau menemani anaknya belajar, khususnya saat periode ujian dengan menyuruh anaknya mengerjakan kembali bagian yang salah pas ujian dan akan terus diulang sampai nilainya 100 alias benar semua. (Metode ini sepertinya cukup berhasil ya, saya sendiri mengalami ketika SD ibu saya SETIAP MALAM pasti duduk di meja buat belajar atau mengerjakan tugas meski tidak sampai harus mengerjakan soal sampai benar semua sih. hahahaha. tapi selain itu, metode macam ini juga dilakukan di antara keluarga Matsumaru, DAiGO (Mentalis terkenal di Jepang, lulusan Keio University) dan Ryogo(mahasiswa Todai yang aktif di tv Jepang karena suka membuat teka-teki untuk anak-anak). Orang tua keluarga Matsumaru selalu membuat kumpulan soal yang dari jawaban anaknya yang salah)
    • mari kembali membahas kelainannya Mizukami, dia tidak pernah belajar di rumah sama sekali. Setengah jam pertama tiap satu mata pelajaran dia baca buku pelajaran sambil mendengar gurunya menerangkan, dan sisa setengah jam pelajarannya dipakai buat mengerjakan tugas/pr/mengulang kembali pelajarannya sehingga dalam waktu singkat buku yang harusnya dipakai dalam setahun dia selesaikan JAUH LEBIH AWAL. TAPI  harap diingat kembali: kemampuan otak Mizukami itu berbeda dengan orang biasa.
  • Materi pelajaran di sekolah ditulis kembali sesuai dengan cara guru menulis apa yang diterangkan di papan tulis. Ini merupakan cara Hikaru dan Tsurusaki. Menurut Hikaru, cara menulis ulang apa yang diterangkan guru apa adanya (urutan menulis, besar kecilnya huruf tulisan) membuat dia mengingat langkah yang tepat untuk mengerjakan soal.

  • Menulis apa saja yang diucapkan gurunya, termasuk JOKES RECEH dan menulis apa yang dikoreksi oleh gurunya saat menerangkan. Ini lebih ke caranya Tsurusaki sih: dia menulis apa yang diucapkan gurunya apa adanya dan catatannya tidak pernah dirapikan kembali. Tujuannya agar dia bisa mengingat suasana saat materi disampaikan sehingga mempermudah dia saat mengerjakan soal.
  • Membuat mata pelajaran tersebut menjadi sebuah cerita. Maksudnya saat kita membaca buku, kita membayangkan apa yang kita baca menjadi sesuatu yang lucu/menarik dan membuat cerita sendiri berdasarkan apa yang kita baca. Contoh yang menggunakan teknik ini adalah Cells at Work/ Hataraku Saibou, yang terfokus ke biologi, khususnya untuk mengingat anatomi fisiologi manusia dan berbagai bakteri atau virus di manusia. Mizukami mengatakan cara ini efektif buat dia…. (tapi kalau buat saya sih bisa jadi beneran ngerti atau malah jadi gak ngerti sama sekali, tergantung pelajarannya). Ishiura-sensei juga bilang sih kalau kita belajar karena disuruh doang tidak akan memberikan efek bisa pada seseorang, karena hal seperti ini tergantung kemampuan anaknya.

 

6. Bagaimana cara agar bisa fokus belajar?

(Buat kalian yang tukang nongkrong tapi juga seneng nongkrong sendirian, selamat, ini adalah cara yang akan membuat kalian senang. hahahaha)

  • Ini dari JuscoHayashi dan Hikaru, tidak belajar di kamar sendiri. Jusco bilang waktu SD dia selalu belajar di ruang tengah, sementara Hikaru belajar biasanya menggunakan timer dan pada saat pakai timer itu memang fokus belajar, gak megang hp atau melakukan hal lainnya. Selain itu, belajarnya pilih di tempat yang ramai, misalnya di perpustakaan atau kedai kopi/cafe-cafe dan DUDUKNYA RADA TENGAH. Mengapa di tengah? Untuk bagian ini saya teringat dari acara TV Jepang yang saya tonton juga sebelumnya (Nama acaranya Hayashi-sensei no hatsumimigaku). Menurut penelitian yang diungkapkan pada acara tersebut, kalau kita belajar atau baca buku di tempat yang ramai, justru kita akan lebih fokus buat mengerjakan sesuatu. tapi harap dicatat, lakukan hal ini sendirian, jangan ada teman atau orang yang dikenal. Ketika kita berada di tempat asing, kita akan memilih melakukan sesuatu yang bisa membuat kita merasa nyaman, yaitu dengan memegang/melakukan sesuatu kerjaan yang memang milik kita. sehingga kita bisa lebih fokus mengerjakan sesuatu.
    • (Bukan berarti saya mengiyakan belajar tiap hari di cafe, bangkrut dong dompetnya huhu. Tapi cara belajar itu tergantung kitanya juga. Kalau tidak mau buang-buang uang, cari perpustakaan sudah cukup. Kalau waktu sma, saya lebih milih belajar di grup kecil atau sendirian. selain itu, saya memilih tempat yang sepi sehingga ada kecenderunga melakukan kerjaan/belajar pas tidak ada orang di rumah atau sudah pada tidur semua toh pada akhirnya cara belajar tuh kita sendiri yang menentukannya.)

 

7. Bagaimana cara agar anak bisa berbahasa Inggris/Asing meski tidak tinggal di negara yang menggunakan bahasa Inggris/asing tersebut sebagai bahasa utama?

Ini tips dari orang tua Hikaru (+sedikit saya masukkan pengalaman sendiri saat belajar bahasa Inggris pas masih SD)

  • Pada saat masih kecil, kalau orang tuanya lagi ribet, orang tua Hikaru selalu membiarkan Hikaru menonton film anak-anak, macam teletubbies atau film kartun, yang menggunakan bahasa Inggris (tetap dalam jarak yang bisa dipantau ya). dan membacakan buku cerita anak dengan bahasa Inggris. Untuk yang ini, saya mengakui nonton film berbahasa Inggris memberikan dampak yang paling baik karena saya sendiri waktu SD sering disuruh nonton film anak berbahasa Inggris dengan subtitle bahasa Inggris juga. kalau ada yang masih ingat, Magic English-nya disney.
  • Agar bahasa Inggrisnya tetap alami: menerima ngehomestay mahasiswa asing. jadi bakal tetap terjaga. Sehingga belajar bahasa Inggrisnya bukan yang belajar duduk di meja tapi praktik langsung buat ngobrol pake bahasa Inggris. (note: Hikaru dulu belajarnya di tk internasional sih heuheu kan udah dibilang Hikaru anak orang kaya)
  • Kalau dari saya sendiri, saya dari SD kelas 1-2 sudah les bahasa Inggris sih. It was quite fun tho. meski ya…. gitu deh hahahaha. saya lebih senang nonton si magic english dulu terus mengulang apa yang disampaikan di videonya. kayak orang bodoh banget tapi lumayan efektif

Jadi… bagaimana menurut kalian tips mengenai pola asuh dan cara belajar ala anak Todai?

 

Dari saya sendiri, sebenarnya kalau ditelusuri ulang bagaimana cara pola asuh orang tua saya sendiri, sebenarnya cukup mirip dengan pola asuh para orang tua mahasiswa Todai, meski kayaknya tidak semuanya efektif buat saya ya, soalnya saya ingat banget dari dulu ga pernah bisa main lego, sampai sekarang. Dibelikan buku atau mainan yang aneh-aneh buat anak (tapi saya tidak serajin itu bacanya kok, ga sampai kayak Mizukami juga itu mah keajaiban huhu), belajar ditemani mamake yang galak di ruang tengah setiap malam (hahahaha), dan tidak pernah belajar ulang di rumah sehingga belajarnya di sekolah doang. ingat banget sih dulu pas SMA kerjaannya nongkrong di Zoe baca komik melulu, ga pernah benar-benar belajar di sekolah, tetapi saya ga pernah bisa memahami pelajaran IPA jaman sma karena gurunya…. ajaib semua, bikin nangis 😦

Apalagi metode Hikaru yang bisa menyampaikan pendapat dia dengan percaya diri. ini hal yang sebenarnya saya ingin lakukan tapi saya juga tidak tahan sama sikap orang lain yang bilang “ah kamu ambis amat sih” “ah da dia mah pasti benar”.

 

Satu hal yang baru saya sadari setelah tidak belajar di institusi formal, orang tua saya sebenernya termasuk tipe yang mendukung anaknya buat mendalami apa yang diinginkan, meski kadang harus diawali dengan berantem atau berselisih pendapat terlebih dahulu. Maksudnya, sebagai contoh, saya meski awalnya ditentang buat belajar di Sastra Jepang, ujungnya tetap didukung. Orang tua juga termasuk yang membebaskan anaknya mau ngapain asal bisa bertanggung jawab. Contoh paling kentara sih pas SMA, yang hampir gak pernah belajar di rumah jadinya pengaburannya baca komik itu. Btw gegara ini juga kali ya saya tidak pernah bisa buat main benar-benar seharian 12 jam sama teman, karena tidak terbiasa aja. kalau kalian mikirnya saya dikekang, tidak juga, saya malah jadi aneh kalau main beneran seharian sih meski jaman kuliah sudah biasa pulang malam.

Sekian dulu dari saya. Semoga konten blog kali ini beneran bermanfaat

 

Zahra.

3 thoughts on “Cara untuk Meningkatkan Kemampuan Otak Anak Menurut Orang Tua Mahasiswa Tokyo University (dan Tips-Tips Belajar ala Mahasiswa Tokyo University )

  1. kalau kamu sebagai ortu mau menyuruh anaknya belajar, ya kamunya juga ikut belajar, bukan cuma sekadar nyuruh ke anak belajar tapi sendirinya main hape berinstagram ria heuheu. problematika saat ini memang
    >>>> wah ini iya, banget niy. jadi harus sering share ke anak juga ya. what i am working on.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.